Rabu, 13 Januari 2010

Burung Cendrawasih, Si Cantik Langka Dari Papua



Siapa yang tidak kenal dengan burung cendrawasih nan indah ini? Satwa langka dari Papua ini sejak dulu telah memikat hati banyak orang. Burung cendrawasih yang menjadi fauna kebanggaan dan identitas dari Papua ini hidup di hutan lebat atau di dataran rendah dan kebiasaannya bermain di pagi hari saat matahari mulai menampakkan cahaya di ufuk .

Burung cendrawasih merupakan anggota famili Paradisaeidae dari ordo Passeriformes. Mereka ditemukan di Indonesia timur, pulau-pulau selat Torres, Papua Nugini, dan Australia timur. Burung anggota keluarga ini dikenal karena bulu burung jantan pada banyak jenisnya, terutama bulu yang sangat memanjang dan rumit yang tumbuh dari paruh, sayap atau kepalanya. Ukuran burung cendrawasih mulai dari Cendrawasih Raja pada 50 gram dan 15 cm hingga Cendrawasih Paruh-sabit Hitam pada 110 cm dan Cendrawasih Manukod Jambul-bergulung pada 430 gram.

Burung-burung cendrawasih terdiri dari 13 genus dan yang paling terkenal adalah anggota genus Paradisaea, termasuk spesies tipenya, cendrawasih kuning besar, Paradisaea apoda. Jenis ini dideskripsikan dari spesimen yang dibawa ke Eropa dari ekpedisi dagang. Spesimen ini disiapkan oleh pedagang pribumi dengan membuang sayap dan kakinya agar dapat dijadikan hiasan. Hal ini tidak diketahui oleh para penjelajah dan menimbulkan kepercayaan bahwa burung ini tidak pernah mendarat namun tetap berada di udara karena bulu-bulunya. Inilah asal mula nama bird of paradise ('burung surga' oleh orang Inggris) dan nama jenis apoda - yang berarti 'tak berkaki'. (Sumber: Wikipedia)

Burung yang mendapat julukan burung surga itu dahulu populasinya cukup banyak di hutan Papua, namun karena terus diburu akhirnya populasinya kini menurun drastis dan sudah sulit dijumpai. Ada beberapa penyebab mengapa jenis satwa langka ini terancam punah. Penyebabnya antara lain, hutan tempat mereka berlindung dan berkembang biak mulai menyempit seiring dengan semakin meningkatnya penebangan hutan oleh perusahaan pemegang hak pengusahaan hutan (HPH). Faktor lain yang menyebabkan populasi burung Cendrawasih menurun drastis adalah sifat reproduksi hewan langka tersebut sangat lamban. Kondisi ini semakin diperburuk oleh pemburu liar.

Perburuan burung Cendrawasih sebenarnya sudah dilarang dipasaran berdasarkan surat
keputusan Menteri Kehutanan, namun karena harga burung ini cukup menggiurkan sehingga para pemburu terus mengadakan perburuan liar. Keindahannya sejak lama telah menjadi incaran komoditas usaha yang mendunia, mulai dari pemburu lokal, pemerintah kolonial Belanda, hingga pengusaha busana di Eropa Amerika dan Kanada yang memanfaatkan bulu burung tersebut.

Populasi burung cendrawasih yang terus menurun menimbulkan keinginan beberapa pihak untuk mencoba melakukan penangkaran. Salah satu yang berhasil melakukan penangkaran adalah Taman Burung dan Rimba Reptil Bali di Gianyar Bali terhadap burung cendrawasih jenis kepala merah (Paradisaea rubra) (Sumber: Antara News)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar