Sabtu, 25 September 2010

Tombol Lift 40 Kali Lebih Kotor Dibanding Toilet Umum


Sumber: Uyung Pramudiarja - detikHealth


Mulai sekarang, sebaiknya dibiasakan mencuci tangan setelah keluar dari lift. Penelitian membuktikan, jumlah bakteri di tombol lift ternyata 40 kali lebih banyak dibandingkan permukaan kloset duduk di toilet umum.

Penelitian tersebut dilakukan oleh ilmuwan dari Microban Europe, untuk University of Arizona. Lift di sejumlah restoran, hotel, bank, gedung perkantoran dan bandar udara di Amerika menjadi obyek penelitian tersebut.

Dalam setiap area seluas 1 centimeter persegi, peneliti mendapati 313 unit pembentuk koloni (UPK) bakteri. Jumlah ini 40 kali lipat lebih banyak dibanding kloset duduk di toilet umum yang hanya memiliki 8 UPK untuk setiap luas area yang sama.

Jenis bakteri yang ditemukan di tombol lift cukup bervariasi. Salah satunya adalah Escherichia coli, bakteri penyebab
diare yang secara alami dapat ditemukan di dalam perut dan kotoran manusia.

"Di gedung perkantoran yang sangat sibuk, tiap jam tombol lift bisa disentuh oleh puluhan orang. Meski sering dibersihkan, bakteri bisa tumbuh di sana," ungkap Dr Nicholas Moon yang memimpin penelitian tersebut.

Temuan ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Dikutip dari Dailymail, Sabtu (25/9/2010), sejumlah penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa toilet justru termasuk salah satu tempat terbersih karena sering dibersihkan.

Jumlah bakteri yang terdapat di meja kerja bahkan 400 kali lebih banyak dibandingkan di toilet. Sementara keyboard komputer juga tidak lebih bersih dari toilet, karena ditumbuhi bakteri 4 kali lebih banyak.

Namun Dr Moon membantah bahwa semua bakteri itu jahat dan selalu berbahaya untuk kesehatan. Yang terpenting menurutnya adalah, biasakan untuk selalu mencuci tangan sebelum memegang makanan.

Sabtu, 14 Agustus 2010

POHON JATI TERBESAR


Kokoh tegak dan besar dengan cabang yang seakan-akan merengkuh langit diusianya yang sudah termasuk uzur. Itulah tampilan sebuah pohon jati (Tectona Grandis) berusia 240 tahun yang oleh masyarakat sekitar diberi nama Jati DENOK. Berada di Petak 62 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Temetes, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Temanjang KPH Randublatung atau terletak di Desa Jatisari Kecamatan Banjarejo Kabupaten Blora. Dari tutur cerita yang beredar dikawasan Sinderan Temanjang yang mencakup wilayah desa Jatisari, Jatiklampok, serta desa Tanggel memang masyarakat akrab dengan nama Jati Denok. Hal tesebut karena selain pohon tersebut sangat monumental karena besarnya juga kadang digunakan sebagai tempat bertapa oleh orang-orang yang senang melakukan ritual.

Dikisahkan dalam sebuah tutur jawa bahwa nama Denok tersebut berasal dari adanya kisah seorang gadis dukuh Gumeng desa Tanggel yang konon kabarnya sangat cantik dan mempunyai tubuh yang sintal, padat dan mempesona yang disebut / diberi nama Denok Deblong. Sang gadis rencananya akan dipersunting oleh seorang pembesar (Begede) Katong kerajaan, namun niat sang pembesar tersebut ditolak secara halus. Dengan membawa rasa kecewa Begede Katong tersebut pulang dan pada saat istirahat di bawah pohon jati besar sambil melamunkan gadis pujaan yang urung dipersuntingnya, singkat cerita pohon jati tempat berteduh tersebut dinamakan “JATI DENOK”.

Sampai dengan saat ini pohon jati tersebut dinamakan Jati Denok yang mempunyai ukuran keliling bagian pangkal 839 cm dan tinggi pohon sekitar 36 meter. Keberadaan Jati Denok menarik perhatian Bupati Blora RM Yudhi Sancoyo bersama dengan beberapa pejabat terkait, saat melihat dari dekat fisik pohon tersebut dan mencoba mengukur lingkar pohon dengan cara berangkulan memerlukan 6 orang dewasa untuk bisa merangkul pohon jati raksasa tersebut. Menurut Bupati Blora pohon jati tersebut merupakan pohon Jati terbesar di Indonesia, walaupun ada beberapa pohon jati tua yang berada di wilayah kabupaten Blora diantaranya di KPH Cepu yang terletak di kawasan Gubugpayung yang salah satu pohonnya telah dilelang seharga Rp 1 miliar, sehingga bisa masuk Muri. Terkait dengan hal tersebut RM Yudhi Sancoyo bertekad ingin menjadikan Jati Denok sebagai ikon kota Blora dan mencatatkannya dalam rekor MURI.

Minggu, 25 Juli 2010

Tips Bijak terhadap Sampah Batu Baterai


Sampah baterai termasuk golongan sampah B3 (Bahan Berbahaya & Beracun), karena mengandung berbagai logam berat, seperti merkuri, mangan, timbal, kadmium, nikel dan lithium, yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Baterai bekas yang dibuang ke TPS atau TPA akan mencemari tanah, air tanah, sungai, danau dan akhirnya meracuni air yang biasa dipakai untuk minum, mandi dan mencuci. Jadi janganlah buang sampah baterai ke tempat sampah. Kumpulkan sampah baterai di rumah/kantor, lalu berikan ke tempat pengumpulan baterai.

Jenis sampah baterai yang dikumpulkan:
- baterai ukuran AA, AAA, C & D
- baterai jam tangan (yang kecil seperti tablet)
- baterai lithium: baterai HP, kamera digital, baterai laptop, dll
- baterai rechargeable

Sampah baterai yang dikumpulkan itu nantinya akan diserahkan kepada pihak penyedia jasa pengelolaan sampah B3 (bahan berbahaya & beracun) yang sudah memenuhi standar manajemen limbah, yaitu WMI - Waste Management Indonesia. Sebagian besar komponen baterai akan didaur ulang, sementara komponen seperti kadmium dan mangan akan dinetralisir dan kemudian dikubur dengan mekanisme yang sudah memenuhi standar manajemen limbah agar tidak mencemari air tanah.

Sumber: WWF