Selasa, 05 Oktober 2010

Pesona Kepulauan Raja Ampat


Kepulauan Raja Ampat merupakan kepulauan yang berada di barat pulau Papua di provinsi Irian Jaya Barat, tepatnya di bagian kepala burung Papua. Kepulauan ini merupakan tujuan penyelam-penyelam yang tertarik akan keindahan pemandangan bawah lautnya. Empat di antara gugusan pulau ini adalah pulau terbesar yaitu:

1. Pulau Waigeo
2. Pulau Misool
3. Pulau Salawati
4. Pulau Batanta

Kepulauan Raja Ampat merupakan tempat yang sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai objek wisata, terutama wisata penyelaman. Perairan Kepulauan Raja Ampat menurut berbagai sumber, merupakan salah satu dari 10 perairan terbaik untuk diving site di seluruh dunia. Bahkan, mungkin juga diakui sebagai nomor satu untuk kelengkapan flora dan fauna bawah air pada saat ini.

Spesies yang unik yang bisa dijumpai pada saat menyelam adalah beberapa jenis pigmy seahorse atau kudalaut mini, wobbegong dan Manta ray. Juga ada ikan endemik raja ampat, yaitu Eviota raja, yaitu sejenis ikan gobbie.

Kepulauan Raja Ampat diindikasikan sebagai kawasan yang paling kaya keragaman hayatinya di dunia.

Kumpulan terumbu karang yang luas dan kaya ini membuktikkan bahwa terumbu karang di kepulauan ini mampu bertahan terhadap ancaman-ancaman seperti pemutihan karang dan penyakit, dua jenis ancaman yang kini sangat membahayakan kelangsungan hidup terumbu karang di seluruh dunia.

Kuatnya arus samudra di Raja Ampat memegang peran penting dalam menyebarkan larva karang dan ikan melewati samudra Hindia dan Pasifik ke ekosistem karang lainnya. Kemampuan tersebut didukung oleh keragaman dan tingkat ketahanannya menjadikan kawasan ini prioritas utama untuk dilindungi.

Kepulauan Raja Ampat adalah bagian dari wilayah yang dikenal sebagai Kawasan Bentang Laut Kepala Burung, yang didalamnya termasuk teluk Cendrawasih, Taman Laut Nasional terbesar di Indonesia, dan Jamursba Medi, yang menjadi lokasi sangat penting di dunia bagi perkembang-biakan Penyu Laut.
(dikutip dari berbagai sumber)

Sabtu, 25 September 2010

Tombol Lift 40 Kali Lebih Kotor Dibanding Toilet Umum


Sumber: Uyung Pramudiarja - detikHealth


Mulai sekarang, sebaiknya dibiasakan mencuci tangan setelah keluar dari lift. Penelitian membuktikan, jumlah bakteri di tombol lift ternyata 40 kali lebih banyak dibandingkan permukaan kloset duduk di toilet umum.

Penelitian tersebut dilakukan oleh ilmuwan dari Microban Europe, untuk University of Arizona. Lift di sejumlah restoran, hotel, bank, gedung perkantoran dan bandar udara di Amerika menjadi obyek penelitian tersebut.

Dalam setiap area seluas 1 centimeter persegi, peneliti mendapati 313 unit pembentuk koloni (UPK) bakteri. Jumlah ini 40 kali lipat lebih banyak dibanding kloset duduk di toilet umum yang hanya memiliki 8 UPK untuk setiap luas area yang sama.

Jenis bakteri yang ditemukan di tombol lift cukup bervariasi. Salah satunya adalah Escherichia coli, bakteri penyebab
diare yang secara alami dapat ditemukan di dalam perut dan kotoran manusia.

"Di gedung perkantoran yang sangat sibuk, tiap jam tombol lift bisa disentuh oleh puluhan orang. Meski sering dibersihkan, bakteri bisa tumbuh di sana," ungkap Dr Nicholas Moon yang memimpin penelitian tersebut.

Temuan ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Dikutip dari Dailymail, Sabtu (25/9/2010), sejumlah penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa toilet justru termasuk salah satu tempat terbersih karena sering dibersihkan.

Jumlah bakteri yang terdapat di meja kerja bahkan 400 kali lebih banyak dibandingkan di toilet. Sementara keyboard komputer juga tidak lebih bersih dari toilet, karena ditumbuhi bakteri 4 kali lebih banyak.

Namun Dr Moon membantah bahwa semua bakteri itu jahat dan selalu berbahaya untuk kesehatan. Yang terpenting menurutnya adalah, biasakan untuk selalu mencuci tangan sebelum memegang makanan.

Sabtu, 14 Agustus 2010

POHON JATI TERBESAR


Kokoh tegak dan besar dengan cabang yang seakan-akan merengkuh langit diusianya yang sudah termasuk uzur. Itulah tampilan sebuah pohon jati (Tectona Grandis) berusia 240 tahun yang oleh masyarakat sekitar diberi nama Jati DENOK. Berada di Petak 62 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Temetes, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Temanjang KPH Randublatung atau terletak di Desa Jatisari Kecamatan Banjarejo Kabupaten Blora. Dari tutur cerita yang beredar dikawasan Sinderan Temanjang yang mencakup wilayah desa Jatisari, Jatiklampok, serta desa Tanggel memang masyarakat akrab dengan nama Jati Denok. Hal tesebut karena selain pohon tersebut sangat monumental karena besarnya juga kadang digunakan sebagai tempat bertapa oleh orang-orang yang senang melakukan ritual.

Dikisahkan dalam sebuah tutur jawa bahwa nama Denok tersebut berasal dari adanya kisah seorang gadis dukuh Gumeng desa Tanggel yang konon kabarnya sangat cantik dan mempunyai tubuh yang sintal, padat dan mempesona yang disebut / diberi nama Denok Deblong. Sang gadis rencananya akan dipersunting oleh seorang pembesar (Begede) Katong kerajaan, namun niat sang pembesar tersebut ditolak secara halus. Dengan membawa rasa kecewa Begede Katong tersebut pulang dan pada saat istirahat di bawah pohon jati besar sambil melamunkan gadis pujaan yang urung dipersuntingnya, singkat cerita pohon jati tempat berteduh tersebut dinamakan “JATI DENOK”.

Sampai dengan saat ini pohon jati tersebut dinamakan Jati Denok yang mempunyai ukuran keliling bagian pangkal 839 cm dan tinggi pohon sekitar 36 meter. Keberadaan Jati Denok menarik perhatian Bupati Blora RM Yudhi Sancoyo bersama dengan beberapa pejabat terkait, saat melihat dari dekat fisik pohon tersebut dan mencoba mengukur lingkar pohon dengan cara berangkulan memerlukan 6 orang dewasa untuk bisa merangkul pohon jati raksasa tersebut. Menurut Bupati Blora pohon jati tersebut merupakan pohon Jati terbesar di Indonesia, walaupun ada beberapa pohon jati tua yang berada di wilayah kabupaten Blora diantaranya di KPH Cepu yang terletak di kawasan Gubugpayung yang salah satu pohonnya telah dilelang seharga Rp 1 miliar, sehingga bisa masuk Muri. Terkait dengan hal tersebut RM Yudhi Sancoyo bertekad ingin menjadikan Jati Denok sebagai ikon kota Blora dan mencatatkannya dalam rekor MURI.